Memasuki April
2026, program konservasi tidak lagi hanya berfokus pada kampanye
penyadartahuan, tetapi mulai membangun fondasi jangka panjang melalui
penelitian, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kolaborasi
dengan berbagai pihak.
Selama April, tim peneliti UMGo
telah menyelesaikan survei sosial di tiga desa, yakni Desa Panca Karsa II, Desa
Kalimas, dan Desa Tirto Asri. Dengan tambahan tersebut, kini telah tersedia
data sosial dan ekologi dari lima desa habitat Julang Sulawesi di Kabupaten
Pohuwato sebagai dasar penyusunan strategi konservasi yang lebih tepat sasaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian Julang
Sulawesi. Di sisi lain, ancaman terhadap habitat burung endemik tersebut masih
perlu mendapat perhatian, terutama akibat pembukaan lahan, aktivitas pertambangan
ilegal, dan menurunnya kualitas kawasan hutan.
Selain melakukan penelitian, PLN
Nusantara Power dan UMGo juga mulai merancang pembangunan Laboratorium Lapangan
Konservasi di Desa Mekarti Jaya. Fasilitas ini nantinya akan menjadi pusat
penelitian, edukasi, pelatihan masyarakat, pemantauan habitat Julang Sulawesi,
hingga pengembangan eduekowisata.
Program konservasi juga mulai masuk ke dunia pendidikan. Bersama para guru di Kecamatan Taluditi, UMGo menyusun kurikulum muatan lokal dan modul pembelajaran tentang konservasi Julang Sulawesi agar generasi muda semakin mengenal dan peduli terhadap satwa endemik Sulawesi tersebut.
Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah
Gorontalo, Indri Afriani Yasin, mengatakan keberhasilan konservasi tidak cukup
hanya mengandalkan perlindungan habitat, tetapi juga harus melibatkan
masyarakat sejak awal.
"Dari hasil penelitian yang
kami lakukan, masyarakat menunjukkan dukungan yang sangat baik terhadap upaya
pelestarian Julang Sulawesi. Ini menjadi modal penting untuk membangun program
konservasi yang benar-benar berkelanjutan. Melalui pendekatan ilmiah dan
pemberdayaan masyarakat, kami berharap konservasi ini dapat terus berjalan
dalam jangka panjang," ujar Indri.
Sementara itu, Adi Nugroho, Manager
PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, mengatakan program konservasi
ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab
sosial dan lingkungan.
"Kami ingin program ini memberi
manfaat yang nyata, bukan hanya bagi kelestarian Julang Sulawesi, tetapi juga
bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itu, kami bersama UMGo telah menyusun
roadmap hingga tahun 2029, mulai dari penguatan riset, pendidikan, pemberdayaan
masyarakat, hingga pengembangan eduekowisata sebagai bentuk keberlanjutan
program," kata Adi.
Di kesempatan yang sama, Reynold
Gobel, Assistant Manager Business Support PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan
Gorontalo, mengatakan keberhasilan program konservasi sangat bergantung pada
kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
"Konservasi tidak bisa
dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi,
masyarakat, dan dunia usaha. Kami bersyukur program ini mendapat dukungan yang
sangat baik. Ke depan, kami ingin konservasi Julang Sulawesi tidak hanya
menjaga satwa dan habitatnya, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat
melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan kawasan berbasis
konservasi," ujar Reynold.
Program Konservasi Julang Sulawesi
merupakan kerja sama PLN Nusantara Power dan Universitas Muhammadiyah Gorontalo
yang dirancang hingga tahun 2029. Selain menjaga kelestarian salah satu satwa
endemik Sulawesi, program ini juga diharapkan mampu melahirkan model konservasi
berbasis masyarakat yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

0 Comments