POHUWATO 28 Juli 2026 – Upaya
menyelamatkan Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) tidak cukup
dilakukan dengan menjaga kawasan hutan. Dibutuhkan ruang yang mampu
mempertemukan penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat agar
konservasi berjalan berkelanjutan. Atas dasar itu, PLN Nusantara Power Unit
Pembangkitan (UP) Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo)
mulai mengembangkan Laboratorium Lapangan Konservasi di Desa Mekarti Jaya,
Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato.
Laboratorium
lapangan tersebut menjadi salah satu program strategis dalam roadmap Konservasi
Julang Sulawesi. Ke depan, fasilitas ini akan difungsikan sebagai pusat
penelitian biodiversitas, pendidikan konservasi, pelatihan masyarakat, hingga
pengembangan eduekowisata yang melibatkan warga sekitar sebagai pelaku utama.
Keberadaan
laboratorium itu diharapkan tidak hanya menghasilkan data ilmiah mengenai
Julang Sulawesi dan habitatnya, tetapi juga menjadi ruang belajar terbuka bagi
mahasiswa, pelajar, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat yang selama ini
hidup berdampingan dengan kawasan hutan.
Ketua Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah
Gorontalo, Indri Afriani Yasin, mengatakan konservasi akan lebih efektif jika
ilmu pengetahuan hadir langsung di tengah masyarakat.
"Laboratorium
lapangan ini kami rancang bukan hanya sebagai tempat penelitian, tetapi juga
sebagai ruang belajar bersama. Masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga
Julang Sulawesi, sementara mahasiswa dan peneliti memiliki lokasi yang
representatif untuk melakukan kajian. Dengan cara ini, hasil penelitian tidak
berhenti di atas kertas, tetapi dapat diterapkan langsung di lapangan,"
ujarnya.
Manager PLN
Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, Adi Nugroho, menilai pembangunan
laboratorium lapangan merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan
program konservasi.
"Kami ingin
meninggalkan warisan yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan
masyarakat. Laboratorium lapangan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam
roadmap konservasi hingga tahun 2029. Di tempat ini akan lahir berbagai
kegiatan penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat yang saling
mendukung untuk menjaga kelestarian Julang Sulawesi," kata Adi.
Menurutnya,
konservasi tidak lagi dipandang sebatas menjaga satwa liar, tetapi juga
menciptakan peluang baru bagi masyarakat melalui pengembangan pendidikan
lingkungan dan eduekowisata.
Sementara itu,
Assistant Manager Business Support PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan
Gorontalo, Reynold Gobel, mengatakan keberadaan laboratorium lapangan menjadi
bukti bahwa konservasi harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan
masyarakat.
"Kami ingin
masyarakat menjadi bagian dari solusi. Karena itu, laboratorium ini akan
menjadi tempat bertemunya pengetahuan, pengalaman, dan partisipasi masyarakat.
Ketika masyarakat memiliki ruang untuk belajar dan terlibat, maka upaya menjaga
Julang Sulawesi akan jauh lebih kuat dan berkelanjutan," ujar Reynold.
Ia menambahkan,
laboratorium lapangan akan menjadi pusat berbagai kegiatan dalam Program
Konservasi Julang Sulawesi, mulai dari pelatihan SMART PATROL, pendidikan
konservasi di sekolah, penelitian biodiversitas, hingga pendampingan masyarakat
dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis konservasi.
Program
Konservasi Julang Sulawesi merupakan kolaborasi PLN Nusantara Power dan
Universitas Muhammadiyah Gorontalo yang dilaksanakan secara bertahap hingga
2029. Melalui pendekatan berbasis riset dan pemberdayaan masyarakat, program
ini diharapkan mampu menjaga keberadaan salah satu satwa endemik Sulawesi
sekaligus menciptakan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat
di Kabupaten Pohuwato.
Narahubung:
Reynold Gobel
Asistant Manager
Business Support
PLN Nusantara
Power Unit Pembangkitan Gorontalo
Telp.
085240807087

0 Comments